Jumat, 27 September 2019
Rabu, 11 September 2019
ABSENSI KEGIATAN VCT BATCH 5-2019
| ABSENSI KEGIATAN VCT BATCH 5-2019 Sebagai peserta (03-09-2019) |
Sebagai Peserta (26-08-2019)
Sebagai Peserta (30-08-2019)
Sebagai Presenter sesi 7 dan Peserta sesi 8 (17-08-2019)
Sebagai Presenter (20-08-2019)
Sebagai Moderator (19-08-2019)
Sebagai Host (22-08-2019)
Sebagai Host (18-08-2019)
Sebagai Moderator sesi 6 dan Peserta sesi 5 (21-08-2019)
Jumat, 06 September 2019
Senin, 28 Januari 2019
NOVER UNIK
"NOVER UNIK"
EMA
Bismillahirrahmanirrahim. Dalam tulisan ini saya hanya ingin berbagi kisah tentang perjalanan hidup seorang wanita. Dimulai dari kisah seorang ibu, yang kupanggil Emak. Wanita yang tegar luar biasa, wanita yang mandiri, tangguh dan istiqomah. Dia adalah wanita yang kuat. Ini adalah sedikit cerita tentang pengalaman perjalanan hidupnya.
Emak bernama lengkap Aseng Suhaya, terlahir dari keluarga yang sederhana di sebuah desa mungil yang sarat dengan kehidupan keagamaan. Daru keluarga enam bersaudara, Emak memiliki dua kakak laki-laki dan satu kakak perempuan, dibawahnya ada satu adik prempuan dan yang bungsu adalah laki-laki. Dari keenam saudara ini Emak termasuk orang yang dekat dengan saudara-saudaranya, terutama dengan kaka laki-lakinya yang bernama Syahidin. Salah satu pengalaman menarik yang selalu terngiang di kepala saya sampai hari ini, ingin sekali saya sampaikan untuk berbagi cerita tentang masa kecilnya.
Ketika kecil dulu Wa Syahidin adalah seorang tentara di Darul Islam di Tasikmalaya yang sudah berkeluarga. Saat itu dia sedang bergerilya di hutan dengan para tentara ketika akan berdakwah dan bersembunyai di hutan-hutan kecil. Saat itu Emak diminta untuk menemuinya ke sebuah hutan yang sangat jauh di daerah Cikatomas. Tidak terbayang olehku perjaanan puluhan kilometer yang Emak lalui sendiri, tidak dengan keluarganya, dan hanya dititipkan dari satu pedagang ke pedagang lainnya.
Dengan berbekal satu pakaian ganti dan makanan bekal ala kadarnya, pergilah ia bersama pedagang itu dalam perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan. Waktu itu masih belum ada kendaraan dan bahkan jarang ada jalanan besar yang dilalui. Emak dan para pedagang harus berjalan kaki, dan jika beruntung bisa sekali-kali naik delman. Tentu saja perjalanan tidak semudah yang dibayangkan, bahkan baju yang Emak gunakan sampai compang-camping karena sering kali tersangkut dahan kayu di hutan yang dilaluinya. Dalam perjalanan yang panjang itu emak hanya beristirahat saat ada Tajug, atau yang dikenal dengan mesjid kecil di desa-desa, untuk melaksanakan solat dan sekali-kali untuk membasuh badan. Seringkali saat makanan sudah habis, mereka diberi oleh warga yang lewat meski hanya sekedar singkong, gaplek, atau makanan sederhana sejenisnya yang ada pada waktu itu.
Meski melalui perjalannan yang cukup panjang dan melelahkan, hal ini tidak membuatnya sedih tapi perjalanan itu ditempuh dengan suka riang karena ingin bertemu kakak tercintanya. Kebahagiaannya terus bertambah ketika dalam perjalanan dititipkan dari pedagang satu dan pedagang lainnya, dan Emak selalu mendapat cerita tentak kakak dan kawanannya dari pedagang-pedagang tersebut. Bahkan tidak jarang ada warga yang menyemangati dan membantunya, menitipkan doa dan perbekalan untuk dibawa ke tempat kakanya.
EMA
Bismillahirrahmanirrahim. Dalam tulisan ini saya hanya ingin berbagi kisah tentang perjalanan hidup seorang wanita. Dimulai dari kisah seorang ibu, yang kupanggil Emak. Wanita yang tegar luar biasa, wanita yang mandiri, tangguh dan istiqomah. Dia adalah wanita yang kuat. Ini adalah sedikit cerita tentang pengalaman perjalanan hidupnya.
Emak bernama lengkap Aseng Suhaya, terlahir dari keluarga yang sederhana di sebuah desa mungil yang sarat dengan kehidupan keagamaan. Daru keluarga enam bersaudara, Emak memiliki dua kakak laki-laki dan satu kakak perempuan, dibawahnya ada satu adik prempuan dan yang bungsu adalah laki-laki. Dari keenam saudara ini Emak termasuk orang yang dekat dengan saudara-saudaranya, terutama dengan kaka laki-lakinya yang bernama Syahidin. Salah satu pengalaman menarik yang selalu terngiang di kepala saya sampai hari ini, ingin sekali saya sampaikan untuk berbagi cerita tentang masa kecilnya.
Ketika kecil dulu Wa Syahidin adalah seorang tentara di Darul Islam di Tasikmalaya yang sudah berkeluarga. Saat itu dia sedang bergerilya di hutan dengan para tentara ketika akan berdakwah dan bersembunyai di hutan-hutan kecil. Saat itu Emak diminta untuk menemuinya ke sebuah hutan yang sangat jauh di daerah Cikatomas. Tidak terbayang olehku perjaanan puluhan kilometer yang Emak lalui sendiri, tidak dengan keluarganya, dan hanya dititipkan dari satu pedagang ke pedagang lainnya.
Dengan berbekal satu pakaian ganti dan makanan bekal ala kadarnya, pergilah ia bersama pedagang itu dalam perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan. Waktu itu masih belum ada kendaraan dan bahkan jarang ada jalanan besar yang dilalui. Emak dan para pedagang harus berjalan kaki, dan jika beruntung bisa sekali-kali naik delman. Tentu saja perjalanan tidak semudah yang dibayangkan, bahkan baju yang Emak gunakan sampai compang-camping karena sering kali tersangkut dahan kayu di hutan yang dilaluinya. Dalam perjalanan yang panjang itu emak hanya beristirahat saat ada Tajug, atau yang dikenal dengan mesjid kecil di desa-desa, untuk melaksanakan solat dan sekali-kali untuk membasuh badan. Seringkali saat makanan sudah habis, mereka diberi oleh warga yang lewat meski hanya sekedar singkong, gaplek, atau makanan sederhana sejenisnya yang ada pada waktu itu.
Meski melalui perjalannan yang cukup panjang dan melelahkan, hal ini tidak membuatnya sedih tapi perjalanan itu ditempuh dengan suka riang karena ingin bertemu kakak tercintanya. Kebahagiaannya terus bertambah ketika dalam perjalanan dititipkan dari pedagang satu dan pedagang lainnya, dan Emak selalu mendapat cerita tentak kakak dan kawanannya dari pedagang-pedagang tersebut. Bahkan tidak jarang ada warga yang menyemangati dan membantunya, menitipkan doa dan perbekalan untuk dibawa ke tempat kakanya.
Langganan:
Postingan (Atom)





